Rabu, 11 Juli 2012

Pengurus MOS Harus Mati ( Lexie Xu)


Judul : Pengurus MOS Harus Mati


Pengarang : Lexie Xu


Tahun terbit: 2011


Penerbit:  Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 301 hal.


Desain sampul: maryna_design


PoV: Orang pertama pelaku utama

Sudah pernah baca Obsesi? Itu loh, novel thriller karangan Lexie Xu yang menceritakan seorang psikopat yang terobsesi pada seorang cewek dan rela melakukan berbagai perbuatan keji untuk memuaskan obsesinya itu. Nah, kali ini, saya berkesempatan untuk mengulas sekuel dari Obsesi, yakni Pengurus MOS Harus Mati. Apakah novel kedua Lexie ini akan sama hebohnya dengan novel terdahulunya? Mari kita simak sama-sama.... 
Sinopsis
Awalnya, Hanny Pelangi merasa gembira karena diminta oleh pacarnya, Benji, untuk menjadi salah satu pengurus MOS. Ia bahkan rela meninggalkan Jenny sahabatnya di Singapura dan kembali ke Indonesia hanya untuk memenuhi permintaan itu. Bersama dengan anggota Pengurus MOS lain—Ronny sang kapten tim basket yang plontos; Peter sang ketua Kelompok Pers Remaja yang congkak; Ivan sang wakil ketua OSIS yang cengeng; Violina yang kecentilan dan Mila yang lembut dan feminin (keduanya sekretaris OSIS); dan Frankie, sang biang onar yang membuat Hanny keki pada pertemuan pertama mereka—Hanny lantas mengarang enam kisah horor untuk diceritakan kepada murid baru. Mereka pikir itu akan seru, dan apa yang akan mereka lakukan itu akan membuat para murid baru itu tersiksa....
...Sampai cerita horor karangan mereka mulai menjadi kenyataan.
Benar, satu demi satu pengurus MOS yang mengarang cerita itu mengalami kejadian yang sama persis dengan cerita karangan mereka. Berbagai spekulasi pun bermunculan mengenai penyebab mengapa berbagai peristiwa naas yang mengerikan itu terjadi. Kutukan kisah horor, para murid baru yang dendam pada pengurus MOS, ada pihak yang tidak senang dengan mereka... Bersama dengan Frankie yang senantiasa membuatnya deg-degan, Hanny mencoba menyibak misteri di balik kejadian-kejadian ganjil ini.
Namun, semuanya mulai terasa membingungkan saat ia menyadari satu hal. Semua petunjuk tentang pelaku kejadian ini mengarah pada Jenny, sahabatnya.

Pembahasan
Seperti halnya dalam Obsesi, Lexie menggabungkan dua tema dalam Pengurus MOS Harus Mati: supranatural dan thriller. Meski begitu, terdapat dua hal yang membedakannya dengan Obsesi. Pertama, Lexie menanggalkan multiple POV yang dulu sempat ia gunakan, dan lalu beralih kepada PoV 1 pelaku utama sepenuhnya. Hal ini memang membuat cerita lebih terfokus, gaya-narasi-terjemahannya lebih tereksplorasi (saya akan membahasnya lebih dalam), dan pembangunan karakter yang lebih mantap (Hanny yang populer tidak perlu berbagi narasi dengan Jenny yang kesepian), tapi tentu saja di sisi lain jumlah adegan yang ada harus semakin banyak untuk mengisi “ruangan kosong” itu. Karena buku kedua adalah sudut pandang Hanny, akan menarik apabila selanjutnya diceritakan dari sudut pandang Markus atau Tony. Selain itu, dibandingkan dengan Obsesi, kesan supranatural yang ada juga tidak begitu kentara. Meski masih membawa-bawa cerita horor, tapi narasi lebih dikedepenkan pada siap pelakusemua kejadian itu, sehingga disadari atau tidak, menampik kemungkinan cerita horor.
Yang kedua adalah perpindahan gaya cerita. Lexie sepertinya belajar dari “kesalahannya” yang terlalu sedikit menempatkan porsi cinta khas teenlit dalam novel terdahulunya. Dibandingkan dengan Obsesi, adegan romantis yang melibatkan Hanny dan Frankie di novel ini lebih banyak dieskpos, membuat bobot cerita romance dan thriller-nya lebih berimbang. Langkah yang bagus sebenarnya, karena ada subplot yang menarik untuk diikuti. Namun, keputusan Lexie itu bukannya tanpa harga. Deskripsi tempat yangshady dan pikiran irasional sang tokoh yang sempat menjadi ciri khasnya pada Obsesi nyaris lenyap di sana, digantikan oleh aliran teror yang terjadi di SMA Persada Internasional dan juga perkembangan perasaan Hanny terhadap Frankie. Dua hal inilah yang saya rasa mengisi ruang kosong yang ditimbulkan oleh keputusan Lexie untuk mengubah sudut pandang.
Kemudian, alur dan konflik. Dibandingkan dengan Obsesi, alur dan konflik pada novel ini lebih deras; Lexie sepertinya lebih mengedepankan variasi adegan ketimbang berkutat pada satu adegan (btw, pilihan adegan cukup cerdas juga). Akibatnya, Pengurus MOS Harus Mati memperkenalkan lebih banyak tempat—yang lebih berfungsi sebagai penyokong cerita. Auditorium, bengkel, kawasan kumuh (saya suka bagaimana Lexie menyelipkan pesan moral di sini mengenai rasa syukur)...semuanya memang muncul, tapi tidak sedalam Obsesi. Konfliknya sendiri—jangan ditanya—masih menumpuk sebagaimana Obsesi. Namun, adegan Hanny-Frankie-nya lumayan bisa menjadi selingan di antara konflik utamanya (dan—bagusnya—sering mengalir bersama)
Kemudian, “rasa terjemahan”. Ya, Lexie kembali hadir dengan rasa itu, dengan gaya narasi lebih dapat membangun karakter Hanny. Namun, dibandingkan dengan Obsesi, kultur luar negerinya kini justru semakin kuat. Para pengurus MOS yang hampir semuanya membawa mobil, misalnya. Atau perpisahan MOS yang somehow malah jadi mirip prom nite. Dan terakhir, adegan Mila membawa pistol—benar, pistol—di bagian menjelang akhir cerita. Ini yang membuat saya bertanda tanya: dari mana seorang remajaIndonesia bisa memperoleh pistol?
Beralih ke teknik penceritaan. Sebagaimana halnya Obsesi, Lexie kembali menggunakan Checkov’s Gun: gantungan sandal yang dibeli Hanny dan Jenny di Singapura. Siapa yang menyangkan kalau gantungan itu akan disebut-sebut lagi? Kemudian, Red Herring-nya juga. Kita bisa lihat bagaimana Lexie mengarahkan pembaca untuk menduga bahwa pelaku adalah Jenny (sebagaimana dalam back cover), tapi well, silakan baca sendiri!
Meski begitu, masih ada kritikan terhadap Pengurus MOS Harus Mati. Pada halaman 45 misalnya, Hanny berkata bahwa ia tidak tahu harus memilih jurusan apa, padahal dia sudah kelas sebelas. Saya tidak tahu bagaimana sistem penjurusan di SMA Persada Internasional, tapi setahu saya, penjurusan sudah diketahui saat seorang siswa sudah naik ke kelas sebelas. Kedua, tindakan Pak Sal yang terlalu lunak. Logikanya, apabila ada kecelakaan yang begitu heboh terjadi di sebuah sekolah internasional (bahkan lebih dari sekali), maka acara itu akan dihentikan, bukan? Kemudian, durasi MOS yang terlalu panjang. Setahu saya, peraturan MOS adalah selama tiga hari. Namun, itu berlaku bagi sekolah negeri, jadi saya tidak tahu dengan sekolah swasta. Terakhir, tidak adanya kegiatan belajar mengajar selama tujuh hari masa MOS. Mengingat MOS dimulai pada tahun ajaran baru (dan bukan sebelum tahun ajaran baru), saya jadi bertanya: ke mana para murid kelas dua belas dan mereka yang bukan pengurus MOS?
Penilaian? Seperti halnya Obsesi, saya berani berkata bahwa Pengurus MOS Harus Mati merupakan buku yang worth-read. Aliran kejadian yang mantap, konflik yang oke, integrasi alur yang menawan, dan penyelesaian yang (lagi-lagi) cliffhanger membuatnya menarik untuk diikuti. Bagi para penyuka Obsesi, jangan lewatkan serial yang satu ini!


Copy dari : http://teenlitscope.blogspot.com/2011/07/pengurus-mos-harus-mati-lexie-xu-2011.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar